More info
Our instagram
alt
alt

@berserk

17 Hours ago

Aenean vulputate eleifend tellus. Aenean leo ligula, porttitor eu, consequat vitae, eleifend ac, enim. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra

alt
alt

@berserk

17 Hours ago

Aenean vulputate eleifend tellus. Aenean leo ligula, porttitor eu, consequat vitae, eleifend ac, enim. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra

alt
alt

@berserk

17 Hours ago

Aenean vulputate eleifend tellus. Aenean leo ligula, porttitor eu, consequat vitae, eleifend ac, enim. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra

Preaching

Akademi Preaching Modul 1 : Gospel-Centered Preaching

Pembicara: Paulus Surya, Samuel Soegiarto, Yakub Tri Handoko

Kami memercayai bahwa salah satu kunci pertumbuhan gereja adalah pemberitaan firman Tuhan di atas mimbar. Jika Alkitab diuraikan dengan benar dan sejelas-jelasnya sambil bersandar penuh pada Roh Kudus, kuasa firman akan berbicara secara khusus kepada jemaat. Ketika Injil diberitakan secara konsisten, Roh Kudus akan mengerjakan pertobatan dan kebangunan rohani. Pemberitaan firman Tuhan juga seharusnya menjawab berbagai pergumulan riil jemaat, baik yang bersifat praktis maupun intelektual. Adalah sulit untuk membayangkan bahwa pertumbuhan gereja yang sehat dapat terjadi tanpa pemberitaan firman Tuhan yang kuat. Sayangnya, banyak mimbar gereja dipenuhi dengan khotbah-khotbah yang tidak berfokus pada Alkitab dan Injil Yesus Kristus. Teks Alkitab tidak digali secara memadai. Nasihat dan teguran yang diletakkan di atas fondasi penebusan Kristus yang sempurna. Sebagian para pengkhotbah bergeser menjadi motivator bisnis dan kehidupan. Sorotan lebih diarahkan pada gaya pengkhotbah (public speaking & performance), bukan penggalian teks Alkitab yang mendalam. Itulah sebabnya sejak 2015 lalu GRAMI menjadikan khotbah sebagai salah satu fokus pelayanan dan pembinaan. Dalam kerangka fokus pelayanan kami – yaitu LEAP (Leadership, Evangelism, Apologetics, Preaching) – khotbah termasuk di bagian terakhir. Kami meyakini bahwa jemaat layak berhak mendapatkan khotbah yang lebih baik. Yang menjadi keunikan kami adalah khotbah yang berpusat pada Injil, biblikal dan apologetis. Berpusat pada Injil, karena jemaat dan orang yang belum percaya perlu terus-menerus mendengarkan Injil supaya tidak terjebak pada legalisme maupun moralisme. Biblikal, karena penguraian firman Tuhan secara mendalam seharusnya menjadi fokus perhatian para pengkhotbah. Apologetis, karena jemaat terus-menerus berada dalam peperangan wawasan dunia sehingga mereka memerlukan jawaban atas berbagai keberatan, keraguan dan pertanyaan dari pihak luar.

Modul Course
Khotbah Berpusatkan Injil: Via Positiva

Perjanjian Lama menubuatkan tentang Yesus yang akan datang, sedangkan Perjanjian Baru mencatat penggenapannya. Yesus dan karya keselamatan-Nya adalah pusat berita dari seluruh Kitab dalam Alkitab.

Khotbah Berpusatkan Injil: Via Negativa

Untuk memahami suatu kebenaran dengan lebih baik, seringkali kita perlu memahaminya dengan cara melihat apa yang bukan dimaksud dengan kebenaran tersebut. Demikian juga dalam kita memahami apa yang dimaksud dengan KBI, kita perlu melihat apa saja yang bukan dimaksud dengan KBI.

Sejarah Gerakan KBI

Mengetahui sejarah suatu gerakan memberikan banyak keuntungan. Kita dapat memahami faktor pendorong yang melahirkan gerakan tersebut. Kita juga bisa mengamati bagaimana gerakan itu mengalami perkembangan sebagai upaya untuk beradaptasi dengan situasi dan tantangan baru. Pemahaman historis juga menjauhkan kita dari bahaya “keangkuhan kronologis” (C.S. Lewis) yang menganggap diri lebih hebat daripada orang-orang pada zaman dahulu.

Alasan bagi KBI: Alkitabiah

Sedikitnya ada dua alasan alkitabiah mengapa Khotbah Berpusatkan Injil Kristus diperlukan: Injil Kristus adalah inti / fokus dari Alkitab dan Injil Kristus adalah berita yang bukan hanya dikhotbahkan kepada orang-orang yang belum percaya, tetapi juga kepada orang-orang yang telah percaya.

Alasan Bagi KBI: Pertumbuhan Gereja

Sebagian orang Kristen beranggapan bahwa Injil hanya relevan untuk penginjilan. Yang membutuhkan Injil hanyalah orang-orang yang belum percaya kepada Yesus Kristus. Injil hanya dipandang sebagai jembatan menuju keselamatan. Setelah selamat, jembatan itu ditinggalkan. Pemikiran seperti ini merupakan sebuah kehilangan besar bagi gereja-gereja. Pembacaan Alkitab yang teliti menunjukkan bahwa semua aktivitas jemaat mula-mula dan para rasul digerakkan oleh Injil. Sulit membayangkan akan terjadi pertumbuhan gereja yang sehat tanpa pemberitaan Injil yang kuat.

Alasan bagi KBI: Antitesis terhadap Jenis Khotbah yang Bertabrakan dengan Injil

Tidak semua khotbah menyampaikan firman Tuhan. Ada kalanya khotbah yang disampaikan hanya berisi kisah-kisah inspirasi yang dibungkus dengan ayat-ayat Alkitab. Bahkan, terkadang ada khotbah yang berisi kesaksian yang sarat dengan agenda-agenda pribadi di dalamnya. Sehingga, sebenarnya khotbah semacam ini tidak dapat disebut sebagai khotbah.

Relevansi Injil bagi Persoalan Fundamental Manusia

Tidak semua orang meyakini relevansi Injil. Bagi mereka kematian dan kebangkitan Yesus Kristus hanyalah sebuah fakta (atau bahkan legenda) yang tidak ada kena-mengena dengan mereka. Penebusan Kristus yang beranugerah dipandang tidak diperlukan, bahkan dianggap sebagai sebuah kebodohan.

Relevansi Injil bagi Persoalan Eksistensial Manusia

Pada saat manusia jatuh dalam dosa maka dalam diri manusia timbul masalah mendasar dalam jiwanya. Masalah ini merupakan pergumulan eksistensial setiap manusia. Pada dasarnya pergumulan ini hanya bisa diselesaikan oleh Injil Kristus.

Kehidupan Pengkhotbah dan Injil

Pengkhotbah dipanggil bukan hanya memproklamasikan Injil tetapi juga mempresentasikan di dalam kehidupannya. Bahkan, panggilan untuk mempresentasikan kadang kala mendahului dari panggilan proklamasi. Bukan di dalam arti presentasi Injil dalam kehidupan itu lebih penting, tetapi kesan biasanya mendahului pesan. Kesan yang baik akan mempermudah seseorang di dalam kesediaan mendengar proklamasi Injil. Sebaliknya, kesan yang buruk akan menjadi rintangan emosional bagi orang lain untuk mendengarkan kabar baik Yesus Kristus.

Interpretasi Teks 1: Seleksi Teks

Menafsirkan Alkitab merupakan tugas penting dan paling awal di dalam menyusun sebuah naskah khotbah. Menafsirkan Alkitab berarti sebuah seni dan studi di dalam menyingkapkan penyataan diri Allah di dalam sejarah. Sebagai seni, maka seorang penafsir perlu belajar dan berlatih untuk dapat semakin handal di dalam melakukan penafsiran.

Interpretasi Teks 2: Analisa Struktur dan Inti Teks

Dalam rangka menemukan inti teks, pengkhotbah bukan hanya perlu mempelajari teks tetapi juga struktur teks. Struktur teks adalah susunan kata-kata atau kalimat yang penulis gunakan untuk menyampaikan pesan. Meneliti struktur teks ini sangat penting untuk mengungkapkan makna yang terkandung di dalamnya. Dua kalimat yang memiliki kata-kata yang sama, namun jika disusun dengan cara yang berbeda, dapat menghasilkan makna yang berbeda. Contoh: “Andi makan ikan” dengan “ikan makan Andi.” Kedua kalimat singkat ini terdiri dari 3 kata yang sama namun dengan susunan yang berbeda. Maka keduanya menghasilkan dua kalimat yang sangat berbeda.

Penggunaan Perjanjian Lama dalam Perjanjian Baru

Penggunaan teks PL oleh para penulis PB merupakan isu yang signifikan sekaligus pelik. Signifikan, karena inti dari pelayanan Yesus Kristus adalah penggenapan seluruh kitab suci (Mat. 5:17-18; Luk. 24:44). Dalam pemberitaan Injil yang dilakukan oleh para rasul mereka juga melibatkan pembuktian atau penjelasan dari kitab suci (Kis. 17:2-3; 18:28).

Kontribusi Teologi Biblika Bagi KBI (1): Prinsip

Salah satu kritikan tajam terhadap KBI terletak pada aspek hermeneutika dan teologi biblika (misalnya Mayhue, Christ-centered Preaching: An Overview, 152, 155-159). Dua hal ini tidak terpisahkan, walaupun sebaiknya tetap dibedakan. Dari sisi hermeneutika, KBI dipandang melampaui (menyalahi?) praktek interpretasi gramatikal-historis yang normal dengan mendorong pendekatan alegoris, tipologis dan sensus plenior tanpa menghargai konteks asli teks. KBI dianggap terlalu memaksakan Kristus harus ada di setiap teks. Dari sisi teologi biblika, KBI dinilai terlalu berlebihan dalam melihat semua teks dari lensa sejarah penebusan, sehingga kurang menghargai keunikan dan perbedaan teologi di dalamnya.

Kontribusi Teologi Biblika Bagi KBI (2): Tips Praktis

Bab sebelumnya menerangkan kritikan terhadap KBI dan bagaimana pemahaman yang benar tentang teologi biblika dapat menghindarkan para pengkhotbah dari kritikan tersebut. Bab ini akan menguraikan secara lebih detail dan lebih praktis, metode teologi biblika di bab 12.

Proses Dasar Persiapan Khotbah: Keterkaitan dengan Injil (1)

Dari berbagai cara yang ditawarkan para tokoh pendukung KBI, sedikitnya ada empat cara penting bagaimana kita bisa mendapatkan berita Injil dari suatu bagian Alkitab. Keempat cara tersebut dapat disingkat menjadi 2P dan 2R, yaitu Predict, Prepare, Reflect dan Result.

Proses Dasar Persiapan Khotbah: Keterkaitan dengan Injil (2)

PREDICT, PREPARE, REFLECT

Proses Dasar Persiapan Khotbah: Ide Homiletis

Para penulis homiletik menyebut ide homiletis dengan istilah yang berbeda-beda. Haddon Robinson menyebutnya dengan Big Idea. James Braga dan Bryan Chapell memakai istilah Proposisi untuk menunjukkan adanya suatu gagasan utama yang di propose oleh seorang pengkhotbah. Benny Solihin menyebutnya sebagai amanat khotbah. Ide homiletis adalah suatu pernyataan sederhana mengenai pokok yang dikemukakan pengkhotbah untuk didiskusikan, diperluas, dibuktikan, ataupun dijelaskan dalam khotbahnya.

Struktur Khotbah

Khotbah yang baik adalah khotbah yang benar, jelas, dan indah. Khotbah yang benar berbicara mengenai konten. Bagian ini telah dipaparkan di dalam bab-bab sebelumnya. Sementara kejelasan dan keindahan khotbah diperoleh sebagai hasil dari usaha menyusun dan merangkai kebenaran dalam struktur tertentu. Ibarat GPS, struktur khotbah menolong pendengar mengikuti alur pembicaraan sampai tujuan akhir yang diharapkan.

Pembacaan Retrospektif Alkitab

Retrospektif secara umum dapat dipahami sebagai melihat ke belakang atau terkait dengan sesuatu di masa lampau. Collin Dictionaries menuliskan retrospektif sebagai feelings or opinions concern things that happened in the past. Sementara Merriam-Webster mendefinisikannya demikian: “Relating to or being a study (as of a disease) that starts with the present condition of a population of individuals and collects data about their past history to explain their present condition.”

Hukum Taurat dan Injil

Pergumulan mengenai relasi antara hukum Taurat dan Injil bukan sesuatu yang mudah dan sederhana untuk dijawab. Berbagai teolog memiliki pandangan dan argumen tersendiri terkait isu ini. Ketegangan di antara hukum Taurat dan Injil ini bukan baru terjadi belakangan, tetapi justru sejak awal Perjanjian Baru, yakni di zaman Yesus Kristus. “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Matius 5:17).

Injil dan Budaya

Sejarah dunia memberi kesaksian bagaimana Injil telah dipakai oleh Allah untuk mengubah dunia. Nilai-nilai Injil merembesi begitu banyak area kehidupan. Pengaruh Injil bagi budaya dunia merupakan fakta yang sukar untuk dibantah (Dinesh D’Souza, What’s So Great about Christianity?).

Contoh Konkrit KBI

Contoh Konkrit KBI

Slot Gacor Slot Gacor Slot Gacor Slot Gacor Slot Gacor Slot Gacor Slot Gacor Slot Gacor Slot Gacor Slot Gacor Slot Gacor Slot Gacor